Kebalikan QE. Bank sentral kurangi kepemilikan obligasi, tarik likuiditas. Mata uang kuat.
Apa itu Quantitative Tightening?
Quantitative Tightening (QT) adalah kebalikan dari Quantitative Easing (QE). Dalam QT, Bank Sentral mengurangi kepemilikan obligasi dan aset lain di neraca mereka, baik dengan membiarkan obligasi yang sudah dibeli jatuh tempo tanpa reinvestasi, atau dengan menjualnya kembali ke pasar. Tujuannya: menarik Jumlah Uang Beredar yang berlebihan, menaikkan suku bunga jangka panjang, dan melawan Inflasi tinggi. QT biasanya dilakukan bersamaan dengan kenaikan suku bunga konvensional.
QT dalam Praktik: Fed 2022-2024
Contoh paling signifikan terjadi saat Federal Reserve mulai QT pada Juni 2022 setelah melakukan QE besar-besaran selama pandemi COVID-19 (2020-2022). Fed mulai mengurangi neraca mereka dari $9 triliun, awalnya $47,5 miliar per bulan, lalu naik ke $95 miliar per bulan. Dampaknya dramatis: USD menguat tajam terhadap hampir semua mata uang, USD/IDR naik dari sekitar 14.300 ke 15.800+, dan aset berisiko (saham, crypto) mengalami koreksi besar.
Dampak QT pada Mata Uang dan Trader Indonesia
QT biasanya = mata uang menguat karena supply uang berkurang dan suku bunga jangka panjang naik. Untuk trader Indonesia, Fed QT yang berlanjut biasanya berarti USD/IDR naik, capital outflow dari emerging market, dan tekanan pada rupiah. Bank Indonesia sering harus menaikkan BI-Rate untuk mempertahankan stabilitas rupiah. Pantau pengumuman Fed dan size of balance sheet reduction lewat Kalender Ekonomi. Lihat Panduan Pemula.
Istilah Terkait
Quantitative Easing (QE)
Bank sentral beli obligasi untuk tambah likuiditas. Dipakai saat suku bunga sudah 0%. Mata uang lemah.
Tapering
Kurangi bertahap ukuran pembelian obligasi. Transisi dari QE ke QT.
Hawkish (Elang)
Sikap prioritaskan kontrol inflasi, dukung naikkan suku bunga. Mata uang biasanya menguat.
Siap trading live?
Exness.Pilihan kami untuk strategi fleksibel. Leverage hingga 1:2000, penarikan instan, akun syariah tersedia, diatur oleh FCA, CySEC, dan FSCA.
78.79% akun CFD ritel merugi saat trading dengan penyedia ini.